Langkau ke kandungan utama

Tauhid Dan Kewajiban Terhadap Orang Tua

dabiq10 - tauhid dan kewajiban terhadap orang tua

{Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu dan bapak kalian} [Al Baqarah: 83]. 

{Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang tua ibu-bapak} [An Nisa: 36].  

{Katakanlah, “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Rabbmu. Yaitu janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua} [Al An‘aam: 151].  

{Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”} [Al Isra’ 23-24].  


{Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya. hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan} [Al Ankabut: 8].

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. [Luqman 13-15]

Di ayat-ayat tersebut dijelaskan perintah berperilaku baik kepada orang tua diikuti dengan perintah menegakkan tauhid dan larangan memperlakukan bapak dan ibu secara buruk, diikuti dengan larangan berbuat syirik! Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menekankannya hingga tiga kali, “Maukah aku kabarkan yang terbesar dari dosa-dosa besar?
Sahabat menyahut, “Ya, wahai Rasulullah.”

Ia menjawab, “Menyekutukan Allah dan berperilaku buruk pada kedua orang tua”. [Riwayat Bukhari dan Muslim, dari Abu Bakrah]

Dia juga mengatakan, “Ridho Allah dalam keridhaan ayahnya dan murka Allah dalam kemurkaan ayahnya.” [Riwayat at Tirmidzi dari Abdullah ibnu Amr]

Diriwayatkan pula oleh Tabi’i Wahb ibn Munabih bahwa Musa ‘alaihissalam bertanya pada Allah, “Wahai Rabb-ku dengan apa engkau perintahkan aku?” Dia subhanahu wata’ala menjawab, “Jangan sekutukan Aku dengan yang lain”. Musa bertanya, “Apalagi?” Dia menjawab, “Berbuat baik pada ibumu.” Musa bertanya lagi, “Lalu apa lagi?” Dia menjawab, “Berbuat baik pada ibumu.” Musa bertanya lagi “Dan apa lagi?” Dia menjawab, “Berbuat baik pada ibumu.” [Az Zuhd- Imam Ahmad]

Lantas bagaimana bisa seorang muwahhid meninggalkan kewajiban tersebut dan melakukan dosa besar kedua setelah syirik dengan memperlakukan kedua orang tuanya secara jahat? Dan bagaimana mungkin seorang muwahhid tidak bersyukur kepada mereka, berbicara dengan baik kepada mereka, dan membersamai mereka dengan kebaikan? Berbuat baik pada mereka adalah kewajiban meskipun keduanya mungkin berbuat dosa, ataupun memerintahkan perbuatan dosa!

Tapi seorang muwahhid harus selalu ingat, ia berkewajiban untuk tidak mentaati orangtuanya yang memerintahkan ketidaktaatan kepada Allah subhanahu wata’ala sebagaimana yang diperintahkan dalam ayat ini, dan sebagaimana Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak ada ketaatan kepada siapapun dalam kemaksiatan kepada Allah. Ketaatan hanyalah pada kebaikan.” [Riwayat al Bukhari dan Muslim dari Ali]

Rasulullah sholallahu ‘alaihi wasallam juga mengatakan, “Wajib bagi setiap Muslim untuk mendengar dan taat atas apa yang dia suka ataupun yang ia benci, kecuali diperintah untuk berbuat maksiat. Jika ia diperintah berbuat dosa, maka tidak perlu mendengarkan dan menaatinya (dalam perkara kedosaan).” [Riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar]

Diantara dosa-dosa besar yang banyak orang tua perintahkan kepada anak-anak mereka ialah meninggalkan jihad fardhu ‘ain (jihad yang merupakan kewajiban atas tiap tiap individu). Mereka secara sengaja ataupun tidak sengaja mendistorsi makna beragam dari hadits yang mewajibkan harusnya mendapatkan izin orang tua sebelum mengerjakan fardu kifayah jihad (jihad yang merupakan kewajiban bagi Ummah secara keseluruhan bukan kewajiban tiap individu). Hadits ini harus dipahami dengan dalil lain termasuk firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kerabat, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik’.” [At Taubah: 24]

Ayat ini berkaitan dengan jihad yang tidak bisa ditinggalkan karena alasan mentaati orang tua. Para ulama dengan tegas menjelaskan bahwa jihad  itu adalah fardhu ‘ain.

dabiq10 - tauhid dan kewajiban terhadap orang tua2

Ibnu Qudamah berkata, “Jika jihad menjadi kewajiban atas seseorang maka minta izin pada orang tua tidaklah dipertimbangkan karena jihad telah menjadi fardhu ‘ain dan meninggalkannya adalah dosa. Tidak ada ketaatan kepada siapapun yang berada dalam ketidaktaatan pada Allah. Serupa halnya dengan masalah haji, shalat berjama’ah, shalat jum’at, pergi untuk menuntut ilmu. Al Awza’i berkata, ‘Tidak ada ketaatan pada orang tua dalam meninggalkan kewajiban, shalat jum’at, haji dan jihad, karena semua itu adalah amalan pengabdian yang menjadi wajib atas setiap individu. Maka meminta izin kepada orang tua tidaklah dipertimbangkan sebagaimana shalat karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.’ [Ali Imran: 97].

Ia tidak mensyaratkan harus meminta izin pada orang tua’.” [Al Mughni]

Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah berkata, “Jika musuh berencana menyerang kaum muslimin, maka memukul mundur mereka menjadi kewajiban bagi semua yang menjadi sasaran ataupun yang bukan menjadi sasaran serangan, sehingga mereka dapat saling membantu, sebagaimana perkataan Allah subhanahu wa ta’ala, ‘Dan jika mereka meminta pertolongan kalian dalam perkara agama, maka kamu wajib menolong.’ [Al Anfal: 72]. Dan sebagaimana Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk menolong Muslim.” [Majmu’ al Fatawa]

Para ulama menyebutkan beberapa kasus/hal yang menjadikan jihad melawan kuffar fardhu ‘ain, termasuk diantaranya invasi kaum kuffar terhadap negeri-negeri Islam, pemenjaraan kaum Muslimin, penyerangan tiba-tiba kaum kuffar terhadap Muslimin, dan melawan tentara kuffar yang hendak menyerang. Khalifah hafidzahullah telah menyerukan mobilisasi umum bagi umat, menegaskan kembali kewajiban ini –satu hal yang menjadikan jihad fardhu ‘ain ialah perintah dari Imam Muslimin – lantas bagaimana mungkin seseorang dapat mengabaikan kewajiban yang sangat jelas ini sekarang dan merasa puas dengan kelemahan pada dirinya? Bagaimana bisa seseorang mengklaim dirinya sebagai seorang muwahhid sementara ia memilih kecintaan dan ketaatan pada orang tua daripada Allah disaat inti dari tauhid ialah memilih kecintaan dan ketaatan pada Allah – Pencipta – diatas siapapun dan apapun yang lainnya  meskipun mengakibatkan ketidakpatuhan pada seluruh ciptaanNya.

Ibnu Abi Hatim radhiyallahu’anhu meriwayatkan dalam tafsirnya bahwa Amr Ibn Yazid al Khaulani dan Ibn Aun diantara para ulama Salaf rahimahumullah – ketika ditanya seseorang tentang nasehat menjalankan jihad sedangkan orang tuanya tidak menyetujui – hanya akan dijawab dengan bacaan ayat, “Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kerabat, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya’.”  [At Taubah: 24]

Ini adalah ijtihad mereka di masa dimana kebanyakan hukum jihad ialah fardhu kifayah. Lantas seberapa aplikatif jawaban mereka ketika jihad adalah fardhu ain, sebagaimana hari ini! Lagi, tidak ada perbedaan bahwa seseorang yang meninggalkan jihad dengan alas an apapun ketika hal itu fardhu ain, telah melakukan dosa besar dan jatuh kepada cabang kemunafikan.

Kesalahan lain yang dilakukan beberapa muwahhidin setelah petunjuk Allah datang padanya ialah bahwa mereka menjadi kasar terhadap orang tua mereka ketika menasehatinya, ketika menyeru mereka kepada kebenaran, ketika memerintahkan kebaikan pada mereka, dan melarang mereka atas kemungkaran, padahal Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan Musa dan Harun ‘alaihimussalam untuk menasehati Fir’aun dengan kata-kata yang lembut.

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas. Dan berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut [pada Allah].” [Thoha: 43-44]

Ayat ini mengindikasikan bahwa jika seseorang berdakwah – secara umum – harus dilakukan dengan kata-kata yang lembut. Berapa banyak lagi contoh yang harus diberikan apalagi jika penerimanya adalah orang tua? Apalagi kalau mereka muslim!

Abu Daud berkata, ia mendengar Imam Ahmad ditanya tentang seseorang yang ibunya mengerjakan shalat dan wudhu secara kurang baik. Imam Ahmad berkata, “Ia harus memberitahukannya dan mengajarkannya.”

Ia kemudian berkata, “Ia menolak untuk diajari dan berkata, ‘Aku lebih tua darimu dan kamu ingin mengajariku??’  Jadi apa menurutmu ia harus memboikotnya atau memukulnya karena hal ini?”
Ia menjawab, ‘Tidak, ia harus mengajarkannya dan memberitahunya’.

Ia kemudian mulai memerintahkannya untuk memberitahu ibunya secara baik.” [Masa’il Abu Dawud]

Harb al Kirmani rahimahullah berkata, ia ditanya tentang Ishaq ibn Rahawaih rahimahullah, “Haruskah seseorang memerintahkan kebaikan atas orang tuanya dan melarangnya dari kejahatan?” Ia menjawab, “Ia harus mengingatkan mereka secara baik. Dan jangan melakukannya di depan umum”.

Ia meriwayatkan bahwa atsar Hasan Basri rahimahullah ditanya oleh Salam Ibn Miskin rahimahullah, “Haruskah aku memerintahkan kebaikan atas orang tuaku dan melarang mereka dari yang buruk?”

ia menjawab, “Nasehati mereka jika mereka menerima. Tetapi jika mereka tidak merespon, maka diamlah.” [Masa’il Harb]

Imam Ahmad juga mengatakan, “Jika seseorang melihat ayahnya melakukan sesuatu yang tidak ia sukai, ia harus mengajarkannya tidak dengan kekerasan ataupun serangan, tidak juga dengan berbicara kasar padanya. Sebaliknya, ia harus meninggalkannya sendiri, karena ayahnya tidak seperti orang asing.” [Al Adab asy Syar’iyyah – Ibn Muflih]

Abul Abbas Ibn Qudamah rahimahullah mendaftar tingkatan hisbah (memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar) sebagaimana berikut:

Memberitahu orang yang mengabaikannya, melarang dengan kata-kata yang baik, bukan dengan kekerasan dan celaan (dengan mengatakan “Hai Jahil” atau “Hai Bodoh”), mencegah dengan kekuasaan dalam kaitannya dengan barang-barang dosa atau maksiat bukan hanya pendosanya saja (dengan membuang minuman alkohol, menghancurkan alat-alat music, dll), dan mengancam untuk memukul pendosa dan benar-benar memukulnya (yang hanya dapat dilakukan dengan otoritas atas para pendosa). Kemudian ia berkata, “Seorang anak dapat menggunakan tingkatan hisbah ini: memberitahukan [orang tuanya yang mengabaikan adalah kedosaan], kemudian dengan lembut melarangnya dan menasehatinya, dan tingkatan hisbah keempat, ia dapat menghancurkan alat musik, membuang khamr mereka, dan seterusnya.” [Mukhtasar Minhaj al Qasidin].

“Ia tidak diperbolehkan untuk mempraktekkan hisbah pada mereka dengan mencela, melakukan kekerasan, mengancam, atau memukul secara fisik.” [Al Ihya]

Pembahasan ini menjelaskan bahwa perlakuan kasar terhadap orang tua tidak diperbolehkan ketika berdakwah kepada mereka ataupun melakukan hisbah amar ma’ruf nahi munkar terhadap mereka.

dabiq10 - tauhid dan kewajiban terhadap orang tua3

Kita mohon kepada Allah agar memasukkan kita dan orang tua kita ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur padaNya. Kita juga mohon kepadaNya agar menunjuki orang tua kita pada jalanNya yang lurus.

http://www.azzammedia.net

Ulasan

Catatan Minggu lepas popular

LEBIH 700 RAKYAT MALAYSIA TELAH PUN BERJAYA DENGAN SISTEM INI...NAK TAU?

Assalamualaikum dan Apa khabar! 
Ramai orang tanya saya, bagaimana buat duit/sale hanya tanpa belanja sesen pun?? Anda mungkin telah join banyak program tapi semuanya tak berjaya bukan...
Akan tetapi, saya yakin kali ini, ini adalah program terakhir yang bakal anda akan join! Program hebat ini akan memukau anda dengan kecanggihan dan ketelusan sistem ini. Pada bulan April 2017 sahaja, lebih 700 rakyat Malaysia telah pun berjaya dengan sistem ini...Nak tau? Caranya dibongkar di sini...
http://www.jutawanapp.com/?id=blogpopular
NAK JOIN GROUP FB KLIK SINI https://www.facebook.com/groups/mudah55/

Simpan rekod perniagaan selepas penghapusan GST

SYARIKAT-syarikat harus terus menyimpan rekod perniagaan mereka selepas penghapusan Cukai Barang dan Perkhidmatan (GST) kerana audit terhadap cukai enam peratus berkenaan dijangka akan terus berlaku yang akan mengambil masa sehingga tujuh tahun dari masa pembekalan, kata Ernst & Young Advisory Services Sdn Bhd. Firma berkenaan juga  berkata, peraturan dan kewajipan GST akan terus diterapkan, termasuk memfailkan pemulangan GST, pengeluaran invois cukai serta tuntutan kredit cukai input, di mana perlu, selain pelarasan hutang lapuk.  
Perdana Menteri, Tun Dr Mahathir Mohamad, di bawah kerajaan Pakatan Harapan, mengarahkan GST pada kadar sifar mulai 1 Jun, 2018 dan akan memperkenalkan semula Cukai Jualan dan Cukai Perkhidmatan (SST).“Peniaga perlu memahami kesan terhadap arahan kadar sifar seperti yang membabitkan harga dan sistem cukai,” kata Rakan Pengurusan Cukai Aseannya, Yeo Eng Ping, dalam satu kenyataan.
Proses peralihan  dari GST ke SST, mungkin mengambil masa yang singkat, ju…

Dato' Omar Abu Bakar - Saya Terlibat Dalam Perancangan Fitnah Liwat Dato' Seri Anwar Ibrahim (video panas!!)

[Klik Start Jika Nak Dengar Radio] Eksklusif Bersama Radio CiliFM Buat Permintaan Lagu Klik SINI

: Bersikap Adil Terhadap Islamic State (ISIS)/Daulah Islam >> SEJARAH BERDIRINYA ISIS >> Membantah Fitnah Keji Media Mainstream ::

Oleh : Ibnu Nasrullah

Khilafah yang dideklarasikan oleh oleh Islamic State of Iraq and Sham (ISIS) memang fenomenal. Selain fenomenal deklarasi ini juga kontroversial karena menimbulkan pro dan kontra dikalangan umat Islam bahkan para aktivis dakwah.

Tak sedikit yang setuju kemudian menjadi ansharnya, ada juga yang tidak setuju dengan alasan yang dianggap syar’i, tetapi ada juga yang gelap mata memfitnah secara membabi buta tanpa dasar yang jelas dan tabayyun terlebih dahulu.

Padahal keagungan Islam telah mengajarkan umatnya untuk adil dalam menilai, apalagi dosa lisan adalah salah satu dosa yang paling banyak menjerumuskan manusia ke dalam jilatan api neraka.

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat : 6)

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah ka…

Ceramah Terkini!!! Mat Sabu (video)

Mat Sabu: Buat Perubahan Besar Kita Ambil Ahli Putrajaya


Catatan popular daripada blog ini

Ceramah Anwar Ibrahim Di Gopeng (Video)

Ceramah terbaru Anwar : KlikSINI

Ceramah Terkini!!! Mat Sabu (video)

Mat Sabu: Buat Perubahan Besar Kita Ambil Ahli Putrajaya


Dato' Omar Abu Bakar - Saya Terlibat Dalam Perancangan Fitnah Liwat Dato' Seri Anwar Ibrahim (video panas!!)

[Klik Start Jika Nak Dengar Radio] Eksklusif Bersama Radio CiliFM Buat Permintaan Lagu Klik SINI